My Scoliosis

Waktu berlalu begitu cepat, tak terasa hampir lima tahun lamanya aku hidup bersama “angel”. Mungkin aku tidak sama dengan orang sakit lainnya, aku hidup dengan diiringi rasa sakit setiap saat. Berat rasanya menerima sebuah kenyataan, yang seakan-akan menelanku dalam kesunyian dan kesepian. Sering aku menjerit dan menangis lalu bertanya, mengapa harus aku Tuhan? Apa salahku sehingga Engkau hukum aku seperti ini? Berikan jawaban itu! aku lelah melewati setiap hariku. Tuhan tidak menjawab pertanyaanku secara langsung, tapi Dia memberikan jawaban itu seperti reaksi berantai. Sedikit demi sedikit, aku mulai mengerti. Ini bukan ‘hukuman’ tapi ini ‘anugrah’, Tuhan berikan aku sebuah keistimewaan. Mungkin aku lelah, terkadang menyerah ketika rasa sakit itu datang begitu hebat. Mengalahkan semua energi positif dalam diri. Tapi aku merasakan sebuah kebahagiaan tak terduga, kenapa bahagia? Karena tidak semua orang mendapatkan kesempatan yang sama, mempunyai cerita hidup sehebat ini. Bagaimana tidak hebat? Aku mampu melewati setiap lika-liku hidup. Melawan rasa sakit, berjuang meraih masa depan, dan berada dalam perbedaan.
-FildzahNurulFauziyyah-

Dosa Dan Doa

Menatap mentari pagi tak lagi beringsut menenangkan jiwa
bahkan kadang panas membara semakin jadi.
Embun pagi tak lagi terasa sejuk, menggasak lupa kejernihan yang tertindas.
Ada apa dengan dunia ku?
Kering kerontang tanah terpijak,
menjerit dalam bisu berkepanjangan,
tak ada suara gema mencelat mengusung butiran kecil asa terdalam.
Hening di hempas badai gelombang tak arah menentu.
Mari menangis meratap noda yang sudah tersandang,
kematian busuk menendang-nendang luapan amarah angkara yang tiba-tiba murka.
Dosa apa ini?
Kalau ini harus tertandingi , sujud maaf haruslah di sebarkan, agar alam tak lagi marah menindas semua keindahan sekaligus kenistaan yang ada.
Mau apa setelah ini? ketika tak ada lagi bau hutan dan air yang menciprati paras-paras baya.
Dosa dan doa , hanya itu ………

Love Of Kubus ( Serpihan Hati )


Aku terpuruk nista dan merasa tak berguna. Tak ada sedikitpun untukmu, katanya. Sakit . Sakit sekali. Dia bilang dengan jujur bahwa dia mencintai seseorang.
Begitu tidak berartinya diriku baginya kini sehingga tidak ada sisa cinta untukku.
Hanya seseorang itu yang ada didalam
hatinya. Aku merasa hina aku merasa
kalah. Kalah telak. Penyesalan itu
sekarang menggunung. Entah apa namanya...
Aku terkapar di dalam kesendirian. Keputusasaan ini menyedihkan!
Walau sudah ribuan kata ikhlas terurai, tapi kenapa hati ini masih hitam tak juga rela?
Tak bisa kugapai kebahagiaan itu. Terlalu sulit. Tanganku menggantung tak lagi mampu menggenggam, apalagi memeluk.
Dia telah jauh berjalan tak mampu
lagi kukejar. Kuteriakkan namanya hampir di setiap desah nafasku.
Rasa cinta ini tak pernah terkikis meski harus .
Mengapa geming hati tak lagi ada?
Nadanya tak lagi terdengar!
Dentingnya perih di sayat... Hanya
raungan jerit tak terdengar!
terpental-pental di dinding hati yang sudah kusam tak lagi terjaga.
Kotor oleh sampah-sampah ucapan dan kebencian yang entah kapan datangnya.
Aku merasa tak berharga , tak ada lagi yang harus dipertahankan.
Ketika ketidak peduli dan bosan sudah didendangkan, menari seakan bergoyang, berlomba menjejalkan rasa pahit di ruang sombong dada ini.
Ketika rasa ingin pergi dariku begitu kuat...
Tak ada lagi penghalang. Tak mampu juga aku berdiri menghalangi...
Terlalu rapuh,Terlalu lemah.
Karena badai yang datang akan terlalu kuat.
Dia menerjang apa saja!
Masa lalu yang tak indah ternyata bisa jadi sebuah alasan penghianatan. Meski
kata janji pernah terucap. Namun ingkar selalu ada di dalam bayang.
Dia telah ingkar!
Sekarang disini aku terpuruk bagai debu yang harus dicampakkan.
Ditiup atau di tebas hingga lenyap.

Love Of Kubus ( Percy Bysshe Shelley )


Aku bangkit dari mimpi-mimpi
tentang dirimu.
Pada saat pertama kali mata
terpejam di suatu malam,
Ketika angin berhembus lirih,
Dan bintang-bintang bersinar
terang...
Aku bangkit dari mimpi-mimpi
tentang dirimu,
Lalu tenaga di sepasang kakiku,
Membimbingku–yang entah bagaimana?
Menuju ke jendela kamarmu, Sayang!
Mengembara di udara semua meredup.
Dalam kegelapan, dalam aliran keheningan...

Love Of Kubus ( Juni Putih )


Juni, bahkan aku tak pernah
berpikir membuat jawaban
untuk pertanyaanmu itu
apalagi menyimpannya lalu
kuberikan padamu sore ini
saat langit di barat membuat
segaris warna kuning perak.
Pertanyaan itu seperti salju
yang tiba-tiba menggantikan
dedaunan kering menggantung
pada ranting-ranting di musim
gugur, membuat oranye,
kuning dan merah, menjadi
putih, hanya putih.
-hari itu-